Selasa, 20 November 2012

Al Qur’an mengenai Awan

Pembentukan Awan Hujan - Keajaiban Ilmiah Al Qur'an
 
Jika langit sedang cerah, kita bisa melihat awan di langit. Awan tersebut terlihat seperti kapas-kapas yang sedang terbang di langit. Jika langit sedang cerah, maka awan akan terlihat berwarna putih. Sering kali kita lihat awan putih dengan berbagai bentuk. Kadang-kadang bergumpal-gumpal, kadang tersebar tipis, berbentuk seperti sisik ikan, atau bergaris-garis seperti serat. Sebentar terlihat bergumpal, tak lama kemudian berubah bentuk, bertebaran dibawa angin.
Memang, bentuk awan selalu berubah-ubah mengikuti keadaan cuaca. Sering kali awan berbentuk indah bagaikan lukisan di langit. Lihatlah di puncak gunung yang tinggi, akan terlihat awan yang memayungi gunung itu. Sungguh indah bukan ? Itulah salah satu dari kekuasaan Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi beserta isinya ini. Lalu, kira-kira bagaimana ya awan itu terbentuk ?
Diawali dari turunnya hujan, kemudian sinar/cahaya Matahari yang sampai di permukaan bumi, lantas diserap bumi, tumbuhan, tanah, sungai, danau dan laut, sehingga menyebabkan air menguap. Uap air naik ke udara atau atmosfer. Uap air naik semakin lama semakin tinggi karena tekanan udara di dekat permukaan bumi lebih besar dibandingkan di atmosfer bagian atas. Semakin ke atas, suhu atmosfer juga semakin dingin, maka uap air mengembun pada debu-debu atmosfer, membentuk titik air yang sangat halus berukuran 2 - 100 mm (1 mm = 1 / 1.000.000 meter). Tanpa adanya debu atmosfer, yang disebut aerosol, pengembunan tidak mudah terjadi. Miliaran titik-titik air tersebut kemudian berkumpul membentuk awan.
Bentuk-bentuk Awan
Bentuk awan bermacam macam tergantung dari keadaan cuaca dan ketinggiannya. Tapi bentuk utamanya ada tiga jenis yaitu, yang berlapis-lapis dalam bahasa latin disebut stratus, yang bentuknya berserat-serat disebut cirrus, dan yang bergumpal-gumpal disebut cumulus (ejaan Indonesia: stratus, sirus, dan kumulus).
Di daerah rendah (kurang dari 3.000 m) yang terendah, awan stratus menutupi puncak gunung yang tidak terlalu tinggi. Di daerah rendah tengah, awan berbentuk strato-kumulus, dan yang dekat ketinggian 3.000 m awan berbentuk kumulus. Awan besar dan tebal di daerah rendah disebut kumulo-nimbus berpotensi menjadi hujan, menyebabkan terjadinya guruh dan petir.
Awan pada ketinggian menengah dapat terbentuk di atas gunung yang tingginya lebih dari 3.000 m, membentuk payung di atas puncaknya. Misalnya di atas Gunung Ciremai (3.078 m), di puncak-puncak pegunungan Jaya Wijaya di Irian yang tingginya antara 4.000-5.000 m, bahkan selalu diliputi salju. Demikian juga Gunung Fuji (3.776 m) puncaknya selalu diliputi salju putih cemerlang sangat indah. Pada ketinggian menengah ini dapat terbentuk awan alto-stratus yang berderet-deret, alto kumulus, dan alto-sirus.
Bagaimana dengan awan di daerah tinggi (di atas 6.000 m)? Di sana terbentuk awan siro-stratus yang tampak sebagai teja di sekitar matahari atau bulan. Juga terbentuk awan siro-kumulus yang bentuknya berkeping keping terhampar luas. Juga dapat terbentuk awan sirus yang tipis bertebar seperti asap.
Jenis-jenis awan
1. Stratus
Letaknya rendah, berwarna abu-abu dan pinggirnya bergerigi dan menghasilkan hujan gerimis salju.
2. Kumulus
Letaknya rendah, tidak menyatu / terpisah-pisah. Bagian dasarnya berwarna hitam dan di atasnya putih. Awan ini biasanya menghasilkan hujan
3. Stratokumulus
Letaknya rendah, berwarna putih atau keabua-abuan. Bentuknya bergelombang dan tidak membawa hujan.
4. Kumulonimbus
Letaknya rendah sperti menara, berwarna putih dan hitam, membawa badai.
5. Nimbostratus
Letaknya tidak terlalu tinggi, gelap, lapisannya pekat, bagian bawah bergerigi serta membawa hujan atau salju.
6. Altostratus
Ketinggian sedang, awan berwarna keabu-abuan, tipis, mengandung hujan.
7. Altokumulus
Ketinggian sedang, putih atau abu-abu, bergulung-gulung atau melingkar seperti makaroni.
8. Sirus
Tinggi, putih atau sebagian besar putih seperti sutra tipis, bergaris-garis
9. Sirostratus
Tinggi, putih seperti cadar, bisa juga seperi untaian, luas menutupi langit
10. Sirokumulus
Tinggi, tebal, putih, terpecah-pecah, mengandung butir-butir es kecil.
Ketinggian Awan
Berikut ini adalah ketinggian jenis awan utama yang diukur dari bagian dasar
1. Stratus, di bawah 450 m
2. Kumulus, Stratokumulus dan Kumulonimbus berada di ketinggian 450 - 2000 m
3. Nimbostratus, 900 - 3000 m
4. Altostratus dan Altokumulus berada di ketinggian 2000 - 7000m
5. Sirus, Sirostratus dan Sirokumulus berada di ketinggian 5000 - 13.500 m
Pembentukan awan hujan. Keajaiban ilmiah al Qur'an.
Awan-awan kecil (kumulus) berarak menuju daerah pertemuan di dekat cakrawala, di mana kita bisa melihat sebuah awan cumulonimbus yang besar (Clouds and Storms, Ludlam, plate 7.4.)
Penumpukan awan hujan. Keajaiban ilmiah al Qur'an.
(A) Awan-awan kecil yang terpisah-pisah. (B) Ketika awan-awan kecil ini bergabung bersama, dorongan ke atas pada bagian tengah awan yang lebih besar semakin meningkat sehingga, awan ini tumbuh ke atas. Butiran air diberikan tanda bintik-bintik hitam. (The Atmosphere, Anthes and others, hal. 269.)
Terbentuknya hujan. Keajaiban ilmiah al Qur'an.
Awan cumulonimbus. Setelah ditumpuk ke atas, air hujan turun darinya.(Weather and Climate, Bodin, hal. 123.)
Para ilmuwan telah mempelajari berbagai jenis awan dan menyadari bahwa awan pembawa hujan terbentuk dengan sistem dan urutan tertentu. Bentuknya pun tertentu dan terkait dengan jenis angin dan tipe awan.
Rincian pembentukan awan di dalam Al Qur'an
Allah telah berfirman di dalam Al Qur'an:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ
Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya... [An Nuur(24): 43]
Para ahli cuaca mengetahui rincian pembentukan awan, strukturnya dan cara kerjanya setelah melalui berbagai macam penelitian, pengamatan menggunakan alat-alat canggih. Mereka baru bisa menceritakan proses tersebut dengan bantuan alat-alat moderen seperti pesawat, satelit, komputer, balon udara dan peralatan lainnya. Mereka harus mempelajari angin serta arah pergerakannya. Mereka harus mengukur kelembaban udara dan variasinya serta menentukan jenis dan keragaman tekanan udara.
Kelanjutan ayat di atas, setelah menyebutkan awan dan hujan, adalah membicarakan es dan petir:
... dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. [An Nuur(24): 43]
Para ahli cuaca telah menemukan bahwa awan cumulonimbus yang menghasilkan hujan es ini dapat mencapai ketinggian hingga 7 sampai 9 kilometer. Dapat kita bayangkan bahwa awan ini memang ukurannya benar-benar seperti gunung sebagaimana yang disebutkan di dalam ayat Al Qur'an di atas: "... dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung,...".
Proses terjadinya Kilat
Ayat di atas juga menghubungkan awan, es dan terjadinya petir atau kilat. Apakah es merupakan faktor penentu pembentukan kilat?
Mari kita kaji sebuah buku berjudul: Meteorology Today. Di sana diterangkan bahwa sebuah awan akan menjadi bermuatan listrik ketika bongkahan es jatuh melalui daerah di dalam awan yang berisi kristal es dan tetes air super-dingin. Ketika tetes-tetes air ini bertumbukan dengan bongkahan es, mereka langsung membeku dan melepaskan panas. Panas ini menjadikan permukaan bongkahan es lebih hangat dari kristal-kristal es di sekelilingnya. Ketika bongkahan es bertumbukan dengan kristal es, sebuah peristiwa penting terjadi: elektron mengalir dari benda yang lebih dingin ke benda yang lebih hangat. Karenanya, kini bongkahan es menjadi bermuatan negatif. Hal serupa juga terjadi saat tetesan air super-dingin bertumbukan dengan bongkahan es dan melontarkan butiran-butiran halus es bermuatan positif. Partikel-partikel yang lebih ringan dan bermuatan positif ini kemudian terangkat ke bagian atas dari awan. Sementara itu, bongkahan es yang kini bermuatan negatif jatuh turun dan berkumpul di bagian bawah awan. Karena itulah kini terjadi perbedaan muatan listrik antara bagian atas dan bawah awan. Muatan negatif ini kemudian dilepaskan dalam bentuk kilat atau petir.
Demikianlah, Allah telah menerangkan sebuah fakta ilmiah yang baru terungkap oleh ilmu pengetahuan moderen. Sebuah keajaiban ilmiah yang tidak mungkin diketahui rinciannya oleh orang-orang di jaman diturunkannya Al Qur'an.
Allahu Akbar!
   Salah satu jenis awan hujan adalah awan kumulonimbus. Para ahlimeteorologi telah menyelidiki proses terbentuknya awan kumulonim-bus serta timbulnya hujan air, hujan es, dan kilat dari awan ini.Mereka menemukan bahwa awan kumulonimbus melalui tahap-tahap berikut sebelum menghasilkan air hujan:
1) Angin menggerakkan awan:
Awan kumulonimbus mulai terben-tuk ketika angin menggerakkan serpihan-serpihan awan (awankumulus) menuju kawasan tempat bergabungnya awan-awan ini.
2) Bergabung:
Serpihan-serpihan awan kemudian bergabung mem-bentuk awan yang lebih besar.
3) Gumpalan awan terbentuk:
Ketika awan-awan kecil bergabung,gerakan udara vertikal di dalam awan yang lebih besarmeningkat. Gerakan udara vertikal ini lebih kuat di bagian tengahdibandingkan di bagian tepinya.
Gerakan udara ini menyebabkangumpalan awan tumbuh membesar secara vertikal, sehinggamenyebabkan awan bertindih-tindih  lihat. Menggumpalnya awan secara vertikal ini menyebabkan awanbesar tersebut mencapai wilayah-wilayah atmosfer yang bersuhulebih dingin, tempat butiran-butiran air dan es mulai terbentuk dantumbuh semakin besar. Ketika butiran air dan es ini telah menjaditerlalu berat sehingga tak lagi mampu ditopang oleh hembusanangin vertikal, butiran ini mulai lepas dari awan dan jatuh kebawah sebagai hujan air, hujan es, dan sebagainya.
firman ALLAH dalam AL-QURAN: tidakkah kamu melihat bahwa ALLAH mengarak awan,kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikanya bertindih-tindih maka kelihatanlah hujan keluar dari celah-celahnya.Para ahli meteorologi baru saja mengetahui dengan rinci prosespembentukan, struktur dan fungsi awan dengan menggunakan per-alatan yang canggih seperi pesawat udara, satelit, komputer, balon, dan peralatan lain untuk mempelajari angin dan arahnya, mengukurkelembaban udara dan variasinya, dan menentukan tingkat dan variasitekanan atmosfer.
 Ayat sebelumnya, setelah menyebut awan dan hujan, selanjutnyaberbicara mengenai hujan es dan kilat:
“dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran)es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan- gumpalanawan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya(butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampirmenghilangkan penglihatan.”
(Al Qur’an, 24:43).

.... dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran)es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan- gumpalanawan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya(butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampirmenghilangkan penglihatan. 
(Al Qur’an, 24:43)
Para ahli meteorologi menemukan bahwa awan kumulonimbus,yang menjatuhkan hujan es, dapat mencapai ketinggian 25.000hingga 30.000 kaki (7,5 hingga 8,9 km),seperti tampilan gunung,yang disebut dalam Al Qur’an,“...Allah (juga) menurunkan(butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan- gumpalan awan seperti) gunung-gunung...”(Lihat Gambar di atas).Mungkin timbul pertanyaan. Mengapa ayat tersebut mengatakan“kilauan kilat awan itu” yang menunjuk ke hujan es tersebut? Apakahini berarti bahwa hujan es adalah faktor utama yang menyebabkantimbulnya kilat? Mari kita lihat yang diungkapkan buku yang berjudul“Meteorology Today” mengenai hal ini. Buku tersebut memaparkanbahwa awan menjadi bermuatan listrik begitu hujan es jatuh melaluikawasan awan yang berisi butiran-butiran air yang sangat dingin dankristal-kristal es. Saat butiran-butiran air menabrak butiran-butiranes, keduanya membeku saat bersentuhan dan mengeluarkan panasyang laten. Hal ini menyebabkan permukaan batu-batu es lebih hangatdibanding kristal-kristal es yang mengelilinginya. Ketika butiran- butiran es bersentuhan dengan kristal es,sebuah fenomena yang penting terjadi:elektron mengalir dari obyek yanglebih dingin ke obyek yang lebihhangat. Karena itu, butiran-butiran esmemiliki muatan listrik negatif. Efekyang sama terjadi ketika butiran-butiran air yang sangat dinginbersentuhan dengan butiran-butiranhujan es dan pecahan-pecahan kecilbutiran air yang bermuatan positif pecah. Partikel-partikel kecil yangbermuatan positif ini lantas terbawake bagian atas gumpalan awan olehudara yang bergerak vertikal. Hujanes, yang memiliki muatan negatif, jatuh ke bagian bawah gumpalan awan ,sehingga bagian bawah gumpalan awan ini menjadi bermuatan negatif.Muatan negatif ini kemudian dilepas sebagai kilat.Karena itu kitadapat menyimpulkan bahwa hujan es merupakan faktor utama dalampembentukan kilat.Infromasi mengenai hal ini ditemukan baru-baru ini saja. Hingga1600 M, pengetahuan meteorologi lebih banyak didominasi pahamAristoteles. Ia, misalnya, mengatakan bahwa atmosfer terdiri dari dua jenis uap, yakni lembab dan kering. Ia juga menyebutkan bahwa guruhadalah bunyi tubrukan uap panas dengan awan di dekatnya, dan kilat adalah nyala dan kobaran uap kering dengan api yang lemah dan redup. Ini adalah pengetahuan tentang meteorologi dominan ketika Al Qur’anpertama kali diwahyukan, empat belas abad yang lalu.
Sumber:dari berbagai sumber















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

cici's blog Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez