Proses ALAMI Terjadinya Hujan Menurut Ilmu Geografi, Ilmu Pengetahuan Lainnya Serta Ayat-Ayat Suci Al-Qur'an
Pengertian Hujan
Hujan
adalah sebuah
presipitasi berwujud cairan. Tetesan-tetesan air yang jatuh memiliki diameter
bervariasi dari 0,5-0,4 mm.
Proses Terbentuknya/Terjadinya Hujan
Alami Menurut Ilmu Geografi dan Ilmu Pengetahuan Lainnya
Menurut Ilmu
Geografi, proses terbentuknya hujan melalui 3 tahap. Pertama, bahan baku hujan
naik ke udara (evaporasi), lalu awan terbentuk (kondensasi), akhirnya curahan
hujan terlihat (presipitasi).
Awalnya
air hujan berasal dari air dari bumi.seperti air laut, air sungai, air
danau, air waduk, air rumpon, air sawah, air comberan, air susu, air jamban,
air kolam, air ludah, dan lain sebagainya. Selain air yang berbentuk fisik, air
yang menguap ke udara juga bisa berasal dari tubuh manusia, binatang,
tumbuh-tumbuhan, serta benda-benda lain yang mengandung air.
Air-air
tersebut umumnya mengalami proses penguapan atau evaporasi akibat adanya
bantuan panas matahari. Air yang menguap / menjadi uap melayang ke udara dan
akhirnya terus bergerak menuju langit yang tinggi bersama uap-uap air yang
lain. Di langit yang tinggi uap tersebut mengalami proses pemadatan atau
kondensasi sehingga membentuk awan. Dengan bantuan angin awan-awan tersebut
dapat bergerak kesana-kemari baik vertikal, horizontal dan diagonal.
Akibat angin atau udara yang bergerak pula awan-awah saling bertemu dan membesar menuju langit / atmosfir bumi yang suhunya rendah atau dingin dan akhirnya membentuk butiran es dan air. Karena berat dan tidak mampu ditopang angin akhirnya butiran-butiran air atau es tersebut jatuh ke permukaan bumi (proses presipitasi). Karena semakin rendah suhu udara semakin tinggi maka es atau salju yang terbentuk mencair menjadi air, namun jika suhunya sangat rendah maka akan turun tetap sebagai salju.
Hujan tidak hanya turun berbentuk air dan es saja, namun juga bisa berbentuk embun dan kabut. Hujan yang jatuh ke permukaan bumi jika bertemu dengan udara yang kering, sebagian ujan dapat menguap kembali ke udara. Bentuk air hujan kecil adalah hampir bulat, sedangkan yang besar lebih ceper seperti burger, dan yang lebih besar lagi berbentuk payung terjun. Hujan besar memiliki kecepatan jatuhnya air yang tinggi sehingga terkadang terasa sakit jika mengenai anggota badan kita.
Proses
Pembentukan Hujan Menurut Ayat Al-Qur’an
Proses Pembentukan Hujani ditetapkan dengan jelas dalam
Al-Qur’an berabad-abad yang lalu, yang memberikan informasi yang tepat mengenai
pembentukan hujan,
"Dialah Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu
menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang
dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan
keluar dari celah-celahnya; maka, apabila hujan itu turun mengenai
hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira" (Al
Qur'an, 30:48)
TAHAP KE-1: "Dialah Allah Yang mengirimkan angin..."
Gelembung-gelembung udara yang jumlahnya tak terhitung yang
dibentuk dengan pembuihan di lautan, pecah terus-menerus dan menyebabkan
partikel-partikel air tersembur menuju langit. Partikel-partikel ini, yang kaya
akan garam, lalu diangkut oleh angin dan bergerak ke atas di atmosfir.
Partikel-partikel ini, yang disebut aerosol, membentuk awan dengan mengumpulkan
uap air di sekelilingnya, yang naik lagi dari laut, sebagai titik-titik kecil
dengan mekanisme yang disebut "perangkap air".
TAHAP KE-2: “...lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah
membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya
bergumpal-gumpal..."
Awan-awan terbentuk dari uap air yang mengembun di
sekeliling butir-butir garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena air
hujan dalam hal ini sangat kecil (dengan diamter antara 0,01 dan 0,02 mm),
awan-awan itu bergantungan di udara dan terbentang di langit. Jadi, langit
ditutupi dengan awan-awan.
TAHAP KE-3: "...lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya..."
Partikel-partikel air yang mengelilingi butir-butir garam
dan partikel -partikel debu itu mengental dan membentuk air hujan. Jadi, air
hujan ini, yang menjadi lebih berat daripada udara, bertolak dari awan dan
mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.
Semua tahap pembentukan hujan telah diceritakan dalam
ayat-ayat Al-Qur’an. Selain itu, tahap-tahap ini dijelaskan dengan urutan yang
benar. Sebagaimana fenomena-fenomena alam lain di bumi, lagi-lagi Al-Qur’anlah
yang menyediakan penjelasan yang paling benar mengenai fenomena ini dan juga
telah mengumumkan fakta-fakta ini kepada orang-orang pada ribuan tahun sebelum
ditemukan oleh ilmu pengetahuan.
Dalam sebuah ayat, informasi tentang proses pembentukan
hujan dijelaskan:
"Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan,
kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya
bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan
Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari
(gumpalan- gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya
(butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya
dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir
menghilangkan penglihatan." (Al Qur'an, 24:43
Apakah
kamu pernah mendengar istilah hujan buatan? Seperti apa sih sebenarnya
hujan buatan itu? Apakah hujan buatan itu adalah hujan yang sengaja
dibuat oleh manusia? Dan bagaimanakah proses terjadinya hujan buatan?
Yuk, kita cari tahu…
Sebenarnya
istilah hujan buatan bukan berarti pekerjaan membuat atau menciptakan
hujan. Namun hujan buatan merupakan sebuah teknologi yang bertujuan
untuk meningkatkan dan mempercepat jatuhnya hujan. Agar bisa terbentuk
hujan buatan maka diperlukan ketersediaan awan yang mempunyai kandungan
air yang cukup, memiliki kecepatan angin yang rendah, serta
syarat-syarat lainnya.

Pesawat sedang melakukan penyemaian awan untuk merangsang terjadinya hujan
Hujan buatan dibuat dengan cara menyemai awan dengan menggunakan bahan yang bersifat higroskopik
(menyerap air) sehingga proses pertumbuhan butir-butir hujan di dalam
awan akan meningkat dan selanjutnya akan mempercepat terjadinya hujan.
Awan yang digunakan untuk membuat hujan buatan adalah jenis awan Cumulus
(Cu) yang bentuknya seperti bunga kol. Setelah lokasi awan diketahui,
pesawat terbang yang membawa bubuk khusus untuk menurunkan hujan
diterbangkan menuju awan.
Bubuk khusus tersebut terdiri dari glasiogenik
berupa Perak Iodida. Zat itu berfungsi untuk membentuk es. Pesawat juga
membawa bubuk untuk “menggabungkan” butir-butir air di awan yang
bersifat higroskopis seperti garam dapur atau Natrium Chlorida (NaCl), atau CaCl2 dan Urea.
Untuk
bisa membentuk hujan deras, biasanya dibutuhkan bubuk khusus sebanyak 3
ton yang disemai ke awan Cumulus selama 30 hari. Oh iya, proses membuat
hujan buatan ini belum tentu berhasil loh. Bisa saja gagal atau malah
hujan buatannya jatuh di tempat yang salah padahal sudah memakan biaya
yang besar dalam pembuatannya. Oleh karena itu, penyebaran bibit hujan
harus memperhatikan arah angin, kelembaban dan tekanan udara.
Hujan
buatan biasanya dibuat untuk membantu daerah yang sedang mengalami
kekeringan, atau bisa juga dibuat untuk untuk pengisian waduk, danau,
untuk keperluan air bersih, irigasi, pembangkit listrik (PLTA), juga
antisipasi kebakaran hutan atau lahan dan kabut asap. Oh iya, karena
hujan buatan ini adalah modifikasi cuaca, maka hujan buatan bisa terjadi
kapan saja tanpa harus menunggu langit mendung. Dan juga tak perlu
khawatir, karena air hujan buatan tidak jauh berbeda dengan hujan asli
loh.
Sumber gambar: http://idkf.bogor.net, b0cah.org

Hujan buatan umumnya diciptakan dengan tujuan untuk membantu daerah yang sangat kering akibat sudah lama tidak turun hujan sehingga dapat mengganggu kehidupan di darat mulai dari sawah kering, gagal panen, sumur kering, sungai / danau kering, tanah retak-retak, kesulitan air bersih, hewan dan tumbuhan pada mati dan lain sebagainya. Dengan adanya hujan buatan diharapkan mampu menyuplai kebutuhan air makhluk hidup di bawahnya dan membuat masyarakat hidup bahagia dan sejahtera.
Hujan yang berlebih pada suatu lokasi dapat menimbulkan bencana pada kehidupan di bawahnya. Banjir dan tanah longsor adalah salah satu akibat dari hujan yang berlebihan. Perubahan iklim di bumi akhir-akhir ini juga mendukung persebaran hujan yang tidak merata sehingga menimbulkan berbagai masalah di bumi. Untuk itu kita sudah semestinya membantu menormalkan iklim yang berubah akibat ulah manusia agar anak cucu kita kelak tidak menderita dan terbunuh akibat kesalahan yang kita lakukan saat ini.
Sementara itu penerapan Hujan buatan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengguyur sebagian kawasan di Sumatera Selatan dengan hujan buatan. Langkah ini diharapkan sanggup memadamkan kebakaran lahan dan hutan di provinsi
METODA PENYEMAIAN AWAN
Dalam penerapan TMC, ada beberapa cara yang dapat
dilakukan untuk menyampaikan bahan semai ke dalam awan. Yang paling
sering dan biasa dilakukan adalah menggunakan wahana pesawat terbang.
Selain menggunakan pesawat terbang, modifikasi pesawat terbang juga
dapat dilakukan dari darat dengan menggunakan sistem statis melalui
wahana Ground Base Generator (GBG) pada daerah pegunungan untuk
memodifikasi awan-awan orografik dan juga menggunakan wahana roket yang
diluncurkan ke dalam awan.

Gambar 10. Macam-macam metoda penyampaian bahan semai ke dalam awan
Di Indonesia untuk saat ini yang sudah operasional dan
dikuasai teknologinya berubah TMC dengan menggunakan wahana pesawat
terbang TMC sistem GBG saat ini masih dalam tarap ujicoba dan telah
terpasang sejumlah menara di daerah Puncak, Bogor (lereng Gunung Gede -
Pangrango), sedangkan untuk wahana roket baru sebatas kajian dan dalam
wacana akan mulai dicoba di Indonesia.
Wahana Pesawat Terbang
Berikut adalah beberapa contoh gambar penyemaian awan dari pesawat terbang :
Pesawat terbang jenis Cassa NC 212-200 sedang melepaskan bahan semai berupa serbuk garam NaCI melalui airscooper yang terpasang pada bagian bawah pesawat. bahan semai dilepaskan pada medan updraft yang ada di sekitar dasar awan (jenis aan hangat).
Selain berupa serbuk (powder), bahan semai
dapat pula dikemas dalam bentuk flare yang dipasang pada bagian sayap
ataupun bawah pesawat. Partikel bahan semai masuk ke dalam awan jika flare terbakar.
Bahan semai jenis ejectable flare dimasukkan ke dalam awan dengan cara ditembakkan dari pesawat pada bagian puncak awan (jenis awan dingin).
Ground Base Generator
Ground Base generator (GBG) merupakan salah satu metoda
alternatif untuk menyampaikan bahan semai ke dalam awan, yang pada
prinsipnya dengan memanfaatkan potensi topografi dan angin lembah (valley breeze),
yaitu angin lokal yang berhembus ke atas pegunungan pada siang hari
dengan mengikuti kemiringan permukaan gunung. Bahan semai dikemas dalam
bentuk flare yang dibakar dari atas menara pada ketinggian tertentu.
Kembang api yang merupakan hasil pembakaran dari flare dengan bahan
higroskopik itu ditujukan untuk mengatur partikel Cloud Condensation
Nuclei ( CCN) yang berukuran sangat halus ke dalam awan sehingga
diharapkan mampu merangsang terjadinya hujan.
GBG aslinya digunakan di daerah lintng menengah dan tinggi dengan suhu lingkungan berada di bawah titik beku (<00C),
namun saat ini sudah mulai diterapkan di Indonesia meski masih dalam
taraf ujicoba. Sejumlah menara GBG telah terpasang menyebar di kawasan
Puncak, Bogor (lereng Gunung Gede - Pangrango) dengan tujuan untuk
menyemai awan-awan orografis yang melintas di kawasan Puncak. Jika
setiap awan yang melintas dapat disemai, maka hujan dapat turun lebih
awal sehingga tidak terjadi penumpukan awan yang dapat menimbulkan hujan
lebat di daerah tersebut sehingga diharapkan akan mampu memperkecil
resiko banjir untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Penyemaian awan menggunakan sistem statis Ground Base Generator (GBG)
yang memanfaatkan awan-awan orografis pada daerah pegunungan
yang memanfaatkan awan-awan orografis pada daerah pegunungan
Wahana Roket
Roket dapat pula dimanfaatkan sebagai wahana
untuk menyampaikan bahan semai ke dalam awan. Metode ini sudah banyak
dikembangkan oleh negar-negara di Eropa. Saat ini BPPT bekerjasama
dengan LAPAN tengah menjajaki kemungkinan teknologi ini untuk
diaplikasikan di Indonesia.










Tidak ada komentar:
Posting Komentar